Selasa, 18 November 2014

Nilai Positif Memelihara Hewan

Ada banyak nilai kehidupan yang perlu ditanamkan pada anak sejak berusia dini. Kelak hal itu akan berguna untuk membentuk kepribadian positif di usia dewasa. Salah satu pembelajaran menarik adalah ketika dia memelihara hewan.
Secara psikologis, keluarga yang gemar memelihara hewan, termasuk kategori keluarga penyayang. Apalagi bila kegiatan ini sudah dimulai sejak kecil, si anak akan tumbuh menjadi pribadi bertanggung jawab, lembut, dan mudah mengendalikan diri.
Oleh karena itu, saat anak belajar memelihara hewan kesayangannya, anak akan belajar kasih sayang, merawat, dan bertanggung jawab.  Di sisi lain, apabila anak diberi tugas-tugas tertentu, dia akan melaksanakan dengan baik.
Pasalnya, dia sudah terbiasa melakukan tanggung jawab saat merawat dan membesarkan hewan peliharaannya. Hadirnya hewan peliharaan di rumah Anda pun bisa mendatangkan keceriaan.
Nilai positif lainnya untuk si kecil adalah dia akan dikenalkan dengan sebuah siklus kehidupan. Anak akan bisa menyaksikan langsung sebuah proses kelahiran, perkembangan kognitif dan fisik, sakit, dan kematian.
Nah, khusus fase terakhir, meskipun menyedihkan, akan tetapi orangtua perlu menerangkan secara lugas. Di sini, Anda mendapat kesempatan mengajarkan putra-putri Anda tentang cara mengatasi kesedihan dan belajar untuk tegar.
Namun, dari semua nilai positif dari kegiatan memelihara hewan, ada hal yang patut diingat bahwa orangtua tetap perlu mengambil porsi besar dari tanggung jawab memelihara hewan. Termasuk menentukan jenis hewan yang tepat untuk dipelihara di rumah.
Dikutip dari The Golden Rules to Raise Your Children, karangan dr Alicia Christine, kira-kira 95 persen anak mulai usia tiga sampai tiga belas tahun ingin memiliki hewan peliharaan. Pasalnya, hewan mampu menawarkan kasih sayang dan bisa terus menemani si anak.
Bahkan seperti penelitian dari Jerman, hampir 80 persen anak menganggap anjing sebagai teman dekat mereka. Selain anjing, kucing, kelinci, atau hamster kerap menjadi favorit anak-anak.
Bila si kecil sudah diizinkan memelihara hewan, selalu ingatkan mereka untuk membantu orangtua dalam memberikan makan, minum, membersihkan si hewan juga kandangnya. Serta tidak lupa untuk mengajak si kecil ketika membawa hewan ke dokter hewan untuk pemeriksaan kontinu. Hal ini menjadi salah satu bentuk tanggung jawab bagi sang anak yang dapat dipupuk sedari dini.
Tak lupa, setiap kali bermain bersama hewan kesayangannya, ajak si kecil untuk mencuci tangan dengan sabun. Ini juga merupakan sebuah bentuk tanggung jawab dalam memelihara kesehatan tubuh. [AJG]
noted: nilai positif memelihara hewan
foto: shutterstock

 sumber : kompas.com

Penuhi Gizi Buah Hati

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, ada sekitar 3,1 juta anak di dunia yang meninggal akibat kekurangan gizi setiap hari. Kebanyakan dari mereka berusia di bawah lima tahun. Gizi buruk masih menjadi ancaman utama pada kehidupan lima tahun pertama seorang anak, yang sesungguhnya bisa dihindari meski membutuhkan kerja sama dari seluruh pihak secara serempak.
Indonesia juga menghadapi isu serupa. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan, prevalensi gizi kurang pada balita bersifat fluktuatif. Sempat menurun pada 2010—dibandingkan tahun 2007—menjadi 17,9 persen,  pada 2013 kembali meningkat menjdi 19,6 persen. Masalah stunting atau pendek pada balita pun masih mencapai angka 37,2 persen secara nasional. Persoalan pemberian pangan dan gizi sesuai kebutuhan bayi, terutama di daerah pedesaan dan terpencil, masih memerlukan penanganan tepat untuk menekan angka gizi buruk pada anak.
Kurang gizi yang dialami anak-anak di bawah usia dua tahun dapat berdampak signifikan. Selain mudah sakit, perkembangan tubuh hingga dewasa tidak optimal, kemampuan motorik rendah, produktivitas rendah, sehingga kemampuan daya saing pun kurang. Edukasi mengenai asupan gizi dan nutrisi pada usia emas anak masih terus ditekankan untuk menekan hal tersebut. Badan dunia Food and Agriculture Organization (FAO) pun menjadikannya isu global dengan menetapkan Hari Pangan Sedunia tiap 16 Oktober.
Peringatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat tentang pentingnya penyediaan pangan yang cukup dan bergizi. Setiap orangtua, dewasa ini, dituntut untuk lebih kritis dalam memilah dan mencermati asupan gizi sesuai tahapan tumbuh kembangnya. Persoalan gizi buruk karena toh pada kenyataannya tak hanya ditemui di kota-kota terpencil. Anak balita di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bogor juga masih banyak mengalaminya. [ADT]
foto: shutterstock
noted: penuhi gizi buah hati

sumber : kompas.com